fbpx

Strategi Branding Paling Penting: 5 Langkah Memahami Siapa Ideal Target Market Kita

September 22, 2021

Wait… wait… "memahami market" kedengaran cliche ya?

Orang-orang udah sering bilang “harus tau apa yang dimau pelanggan”, “harus tau gimana mereka ambil keputusan belanja”, “harus tau apa yang mereka resahkan.”

Kita semua udah tau kalau harus mengenal siapa pelanggan kita. Tapi pasti kamu belum tau kan, gimana step-by-step yang bisa dilakukan untuk menarik data tentang ideal target market?

Kita kulitin deh yuk tentang strategi riset ideal target market yang bisa kita lakuin sendiri.

Mulai dari Membuat Asumsi

Kita semua tau kalau ada yang namanya customer persona. Itu loh, asumsi tentang karakter ideal target market kita secara demografi dan psikografi.

Di awal proses branding, kita perlu berasumsi dulu, siapa sih sebenarnya yang butuh produk / layanan kita.

Prosesnya kurang lebih mirip kayak lagi mengarang sebuah cerita. Tokoh ini fiktif aja. Tapi meskipun fiktif, sebisa mungkin buat karakter ini mewakili calon pelanggan utama.

Buat data yang lengkap, secara demografi dan psikografi. (gak bakal dijabarin di sini ya apa itu psikografi dan demografi. Cari sendiri.)

Kalau persona ideal target market kita udah kebentuk, saatnya kita mengujinya.

Observasi Tingkah Laku Ideal Target Market

Dari proses penyusunan persona, sekarang kita udah punya bekal karakteristik ideal target market yang kita inginkan. Tugas selanjutnya, cocokin deh tuh sama kondisi di lapangan. 

Tujuannya adalah membuktikan, benar gak sih orang-orang dengan demografi dan psikografi seperti yang kita asumsikan bakal bertindak seperti apa yang kita bayangkan.

Catat mana yang sesuai dan mana yang perlu diperbaiki. Kira-kira apa yang jadi keresahan utama mereka sehari-hari. Apakah produk / layanan yang kita miliki udah bisa menjadi solusi atas keresahan itu? Apa yang bisa kita perbaiki dari fitur produk kita biar bisa kasih benefit yang mereka inginkan.

Langkah Selanjutnya, Survei!

Karena udah observasi, pastinya data ideal target market kita bakal sedikit lebih tajam–meskipun belum akurat. Langkah selanjutnya adalah membuat instrumen survei (angket / kuesioner).

Saat membuat kuesioner, pastikan kamu punya beberapa pertanyaan yang bisa kasih wawasan baru. Contohnya seperti pendapatan, daerah asal, tujuan profesional, tujuan personal, dan segala data terkait psikografi yang belum bisa kita dapat di fase observasi.

Kalau udah, sebar deh tuh kuesioner ke orang-orang yang sesuai sama data terbaru kita.

Sekarang Kita Lakukan Interview

Kita perlu pelajari dinamika ideal target market kita secara lebih real.

Undang beberapa orang yang sesuai sama persona ideal target market terbaru kita. Mulai deh tuh kita pelajari lebih dalam lagi gimana sih keputusan belanja mereka. 

Apa yang bikin mereka mau belanja, apa yang enggak.

Apa sih yang jadi tantangan hidup mereka sebenarnya. Gimana kalau tantangan itu gak terselesaikan.

Ingat, di setiap langkah, tujuan kita adalah membuktikan asumsi.

Tutup dengan Focus Group Discussion 

Ideal target market kita gak bergerak secara individu. Mereka saling mempengaruhi dalam mengambil keputusan pembelian. So, tugas kita adalah menarik data dengan mencoba berbagai kondisi.

Kondisi pertama, kita hanya mengundang semua peserta FGD (Focus Group Discussion) saja. Lempar beberapa pertanyaan / pernyataan dan biarkan mereka saling menanggapi.

Kondisi kedua, di tengah proses FGD, ajak KOL (Key Opinion Leader) untuk terlibat di dalam diskusi. Mulai deh tuh ceritain background si KOL. Tujuannya kita bisa lihat apa tanggapan ideal target market atas keberadaan figur yang berpengaruh.

Kesimpulan

Namanya pelanggan, seiring berjalannya waktu pasti bakal berubah juga karakter dan tindakannya. Udah jadi tugas kita untuk selalu menjaga relevansi dengan kondisi aktual.

Memahami ideal target market termasuk ke dalam strategi branding paling penting. Tanpa mengenal mereka, apapun yang kita tawarkan bisa jadi percuma. 

Kalau di Akarmula, mencari data ideal target market itu masih nyambung ke proses penyusunan brand positioning. Kapan-kapan kita lanjut lagi ya tentang bagaimana menyusun positioning itu sendiri.

Article written by Lintang Noviantara
Brand Strategist at Akarmula

More Insights

All Right Reserved © 2024 Akarmula
arrow-down
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram