fbpx

Alasan Brand Ngajak Kita Berbuat Baik

April 25, 2025

Udah ngga bisa dipungkiri, konsumen sekarang ngga cuma beli produk—mereka membeli apapun yang melekat pada brand. Ini termasuk seberapa baik & berdampak sebuah brand terhadap lingkungan. Di artikel ini, mari kita bedah alasan brand ngajak berbuat baik plus bagaimana kamu—sebagai brand owner atau marketer—bisa memahami ini sebagai strategi yang efektif dan beretika.

Key Takeaway:

  • Ketika brand mengajak berpartisipasi dalam kebaikan otak konsumen memproduksi oksitosin.
  • Brand yang berani menyuarakan nilai sosial, sedang memperkuat diferensiasinya di dua level.
  • Brand pada akhirnya adalah entitas sosial, bukan sekadar mesin ekonomi.

Kenapa Brand Ngajak Berbuat Baik?

Mungkin kamu pernah denger atau bahkan familiar dengan notifikasi berikut ini:

“Dengan setiap pembelian, kamu bantu satu anak sekolah.”

“Beli 1 produk, kami tanam 1 pohon.”

Tapi kenapa brand melakukan ini?

Karena pada dasarnya kita memang suka dengan hal-hal baik.

Laporan dari *Edelman Trust Barometer (2022)* menunjukkan bahwa masyarakat (terutama Gen-Z) sangat melek dengan brand-brand yang peduli tentang isu-isu lingkungan & sosial. Hasil laporan yang sama nunjukin kalau di beberapa kasus, brand-brand justru dianggap entitas yang lebih bisa diandalkan katimbang pemerintah. Ehem, di Konoha kamu ngerasa hal yang sama?

Itu tadi Gen-Z, coba kita sedikit lebih peka dan mengingat-ingat bentuk nyata dari keberpihakan kita terhadap sebuah brand tuh dipengaruhi sama “kebaikan” adalah bentuk boikot terhadap brand yang mendukung peperangan atau genosida. Clear, ya!

Nah, sekarang mari kita breakdown 3 alasan strategis kenapa brand ngajakin kita berbuat baik.

1. Branding yang Emosional

Manusia punya hormon Oksitosin, ini hormon yang dilepaskan saat manusia merasakan kepercayaan, kedekatan emosional, dan rasa kebersamaan.

Ketika brand mengajak konsumen berpartisipasi dalam kebaikan (donasi, pelestarian lingkungan, pemberdayaan komunitas) otak konsumen memproduksi oksitosin, yang kemudian:

  • Membentuk keterikatan emosional yang mendalam
  • Menurunkan resistensi terhadap pesan marketing
  • Meningkatkan kepercayaan terhadap brand

Key strategies:

Alih-alih cuma ngomongin fitur produk, coba susun ulang narasi yang membangun rasa empati dan kontribusi.

Misalnya:

  • Menunjukkan kisah nyata dampak sosial
  • Mengajak konsumen menjadi bagian dari perubahan ("You are part of this movement.")
  • Mengomunikasikan manfaat sosial sebagai bagian dari identitas brand, bukan sekadar aktivitas promosi

Dengan kaya gini, keputusan konsumen tidak lagi bersifat logis (yang transaksional) semata, melainkan menjadi keputusan emosional yang berbasis rasa keterhubungan.

2. Brand Trust & Customer Loyal

Pernah dengar Reciprocity? Ini hukum timbal balik di mana kecenderungan alami manusia untuk merasa "berutang" secara sosial kepada pihak yang telah memberi mereka sesuatu—baik dalam bentuk nyata (seperti hadiah) maupun emosional (seperti perhatian atau rasa dihargai).

Dalam kasus brand, ketika brand terlebih dahulu mengajak konsumen berbuat baik bersama, brand sebenarnya sedang memberi sesuatu yang lebih dari sekadar produk:

  • Memberi rasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar
  • Memberi pengalaman bermakna
  • Memberi kesempatan untuk membuat dampak positif

Dan saat audiens menerima "pemberian" ini—baik berupa rasa bangga, kontribusi sosial, atau pengalaman emosional—mereka akan lebih terdorong untuk percaya, mendukung, & loyal sama brand.

Key strategies:

  • Libatkan audiens untuk berkontribusi aktif dalam campaign, bukan hanya pasif melihat.
  • Berikan laporan transparan tentang hasil campaign sosial, supaya audiens merasa impact mereka nyata.
  • Jangan hanya "baik" saat campaign tertentu. Jadikan kebaikan bagian dari brand DNA.
3. Bagian dari Positioning

Value dan purpose menjadi landasan dalam membangun positioning.

Brand yang berani menyuarakan nilai sosial—seperti keberlanjutan, keadilan, pendidikan, atau solidaritas—sebenarnya brand sedang memperkuat diferensiasinya di dua level:

  • Kognitif: konsumen mengenal brand bukan hanya dari produk, tetapi juga dari nilai-nilai yang dipegangnya.
  • Afektif: konsumen merasa bahwa brand berbagi visi yang sama dengan mereka tentang dunia.

Brand yang berkomitmen pada nilai tertentu secara konsisten, bakal mengukir identitasnya lebih dalam di memori konsumen dibanding brand yang hanya bermain di ranah harga, diskon, atau fitur.

Key strategies:

  • Pilih nilai sosial yang selaras dengan brand essence, bukan sekadar tren.
  • Bangun program sosial sebagai bagian dari brand mission statement, bukan hanya seasonal marketing activity.
  • Konsistensi storytelling di semua touchpoint

Apakah Ini Salah?

Bisa jadi enggak.

Brand pada akhirnya adalah entitas sosial, bukan sekadar mesin ekonomi. Ia lahir dari interaksi, tumbuh lewat relasi, dan bertahan karena relevansi. Maka, mencari keuntungan tidak bertentangan dengan mengupayakan kebaikan—selama keduanya berjalan dengan fondasi yang benar.

Masalah muncul bukan pada keberanian brand untuk berbuat baik, tetapi pada motif dan konsistensi di balik tindakan itu.

Jika nilai sosial hanya dipakai sebagai dekorasi marketing—tanpa komitmen nyata—maka yang terjadi adalah kegagalan moral—sebuah bentuk pencitraan kosong yang cepat atau lambat akan dirasakan audiens sebagai ketidakotentikan.

More Insights

All Right Reserved © 2026 Akarmula
arrow-down
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram