fbpx

Berbagai Contoh Strategi Marketing Yang Bisa Dicoba Di Tahun 2023

December 13, 2022

Makin hari makin ada aja ide dan contoh strategi promosi yang bisa kita coba. Apa lagi dengan melihat pertumbuhan berbagai platform media sosial saat ini, kita jadi makin punya banyak tempat untuk eksplorasi.

Berhubung saat ini sudah di ujung tahun 2022 (dan sebentar lagi 2023), mungkin akan seru kalau kita coba recap contoh strategi promosi apa aja sih yang banyak dijalankan dalam setahun terakhir ini. Dari sana, kita akan coba lihat, mana strategi yang masih relevan untuk di tahun depan, dan mana yang sebaiknya mulai kita tinggalkan.

Yuk, digas.

Kilas Balik: Beberapa Contoh Strategi Marketing yang Ramai Dijalankan di 2022

Biar enak, kita akan kerucutkan contoh strategi marketing ke arah digital marketing aja kali ya. Soalnya kalau kita gabung sama strategi marketing konvensional, bisa banyak banget dan malah ngalor-ngidul.

  1. Promosi di Angka Kembar

Semenjak digaungkan oleh berbagai marketplace, para pemilik brand menjadikan angka kembar setiap bulan sebagai tanggal yang sakral. Seolah-olah, itu seperti momen malam bulan purnama yang mengubah mereka jadi lebih bertenaga dan bisa membuat penjualan produknya habis, laris manis.

Okay, kalau di tahun ini masih ada yang menggunakan angka kembar sebagai tanggal promosi, ada baiknya secara perlahan mulai dikurangi. Apa alasannya? Baca aja sampai habis, nanti bakal diceritain kok 😉

  1. Promosi Lewat Social Commerce

Tahun 2022 jadi titik menuju tanjakan tajam, di mana brand mulai melakukan tes dan ukur efektivitas penjualan lewat promosi di TikTok. Strategi marketing yang satu ini sebenarnya dikenal dengan nama social commerce.

Social commerce sebetulnya bukan merupakan hal baru. Bahkan, Instagram juga sudah mempersiapkan itu dari dulu. Itu loh yang ada icon shop bag di postingan Instagram. Inget, kan?

  1. Penggunaan Live-stream

Thanks to the internet yang semakin hari semakin kencang dan harga kuota yang semakin terjangkau. Sekarang Live stream video sudah terasa seperti mengalir gitu aja.

Tren ini sebelumnya sudah diprediksi dari tahun 2021, di mana penggunaan video dan live-stream mulai terbang nggak karuan meninggalkan platform promo melalui chat dan video non live-stream.

Di tahun 2022, live-stream jadi contoh strategi marketing yang ampuh untuk berinteraksi dan menciptakan sales dalam satu waktu.

Bytedance, induk dari TikTok, kabarnya sedang akan melakukan uji coba penggunaan TikTok live-shopping. Jadi viewers bisa melakukan pembelian produk tanpa harus meninggalkan aplikasi sama sekali.

  1. Influencer Marketing

Di tahun 2022, strategi influencer marketing masih laris dipakai. Hanya saja strateginya mulai berkembang jadi sedikit lebih kompleks. 

Alih-alih bekerja sama dengan influencer skala artis, brand justru memilih influencer skala kecil untuk melakukan promosi yang memicu penjualan secara serentak. Kenapa begitu?

Konsumen semakin hari semakin jago. Mereka bisa dengan mudah membedakan mana unggahan seseorang yang bagian dari promosi sebuah brand, dan mana yang organik.

Demi menciptakan efek organik ini lah strategi influencer marketing yang pas perlu untuk disusun.

  1. Omni-channel Marketing

Di awal tadi kita sudah sepakat untuk hanya membahas strategi marketing digital saja, ya? Tapi kok agak gatal kalau nggak masukin strategi yang satu ini. Nggak apa-apa lah, toh juga sebagian dari channel yang dipakai tetap digital.

Setelah status PPKM diturunkan, brand-brand multinasional makin seru dalam menjalankan strategi omni-channel marketing di tahun 2022. 

Buat yang belum tahu, omni-channel marketing adalah strategi di mana kita mengaktifkan banyak titik untuk menuju satu objektif tertentu. Titik ini bukan hanya di digital, tapi juga termasuk placement media out of home (OOH) seperti billboard.

Proyeksi Tren Marketing 2023

Kalau tadi kita sudah recap contoh strategi marketing yang marak dipakai di 2022, kira-kira mana ya strategi yang masih layak dipakai di 2023 nanti?

Disclaimer dulu, tren ini belum tentu akan akurat 100%. Perlu kita sepakati kalau apa yang tertulis di sini sifatnya hanya proyeksi saja. Saya juga bukan brand analis handal. Jadi tolong dimaklumi saja kalau proyeksinya banyak yang meleset, ya.

  1. Promosi Angka Kembar Mulai Berkurang

Kita semua tahu, di 2022 marketplace kesayangan kita nafasnya mulai sedikit tersengal. Dampaknya tentu akan sedikit berpengaruh ke program-program menarik yang diadakan di berbagai marketplace.

Ketika yang menciptakan tren promo angka kembar sudah berpotensi akan menguranginya sedikit demi sedikit. Apakah sebaiknya kita yang pemilik brand kecil ini mulai mempertimbangkan hal itu juga?

  1. Brand Akan Mulai Membangun Website E-commerce Sendiri

Ini masih jadi bagian dari dampak marketplace yang sedang batuk-batuk nggak karuan. 

Tampaknya efisiensi akan terus terjadi dari sisi marketplace. Ketika marketplace melakukan efisiensi, bisa jadi pertimbangan untuk mereka menaikkan biaya admin berpotensi untuk terjadi.

Rasanya ini akan jadi titik di mana pemilik brand akan sedikit demi sedikit memisahkan diri dari marketplace. 

Bayangkan kalau tidak memisahkan diri. Saat kita terlena terlalu dalam, makin untung banyak, potongannya juga akan makin besar. Ini dia yang jadi alasan kenapa banyak brand mulai membangun website e-commerce mereka sendiri.

  1. TikTok Marketing Bakal Makin Digas Pol

Ex-prom queen media sosial kita semua—Instagram—saat ini masih nggak mau kehilangan mahkota. Dia lagi berusaha untuk dapat kepercayaan kembali dari usernya. Tapi realita berkata lain. TikTok berhasil naik tahta jadi ratu yang baru.

Di 2023, bakal sangat disayangkan kalau brand yang kamu punya nggak memanfaatkan TikTok sebagai salah satu channel pemasaran digital.

Seperti yang tadi sudah disebutkan di atas, Bytedance akan terus-terusan memberikan pembaruan buat platform media sosial yang satu ini. Jadi mumpung ombaknya masih seru, manfaatkan dengan segera.

  1. Mulai Menerapkan Gamification

Gamification adalah pengaplikasian konsep game ke dalam strategi pemasaran. Konsep game yang dimaksud ada beragam. Salah satu penerapannya adalah dengan menggunakan konsep level. 

Konsep level memungkinkan pelanggan di setiap tingkatan untuk mendapatkan keuntungan dan hadiah yang bervariasi (sesuai dengan levelnya). 

Seiring dengan pertumbuhan konsep metaverse, penerapan gamification ke dalam strategi pemasaran patut untuk dapat perhatian lebih.

  1. Tren Pembiasaan Diri Tanpa Third-Party Cookie

Sebenarnya ini bukan berita yang baru. Dari beberapa waktu yang lalu, Apple, Google, dan Mozilla sudah berencana untuk menghentikan yang namanya third-party cookie.

Apaan tuh third-party cookie?

Simpelnya, ketika kita mengunjungi sebuah situs, device yang kita gunakan bakal “ketempelan” sesuatu yang memudahkan situs tertentu mengingat kita kembali. Ini yang bikin pengiklan bisa melakukan targeted-ads.

Ketika cookie dihilangkan, akibatnya aktivitas periklanan jadi kurang efektif dan dapat mengurangi performa keseluruhan periklanan digital.

Terus solusinya gimana?

Banyak brand mulai membiasakan diri tanpa third-party cookie, salah satunya dengan cara membangun zero-party data.

Zero-party data adalah data yang secara sukarela dibagikan oleh pelanggan ke brand yang ia suka. Data ini dapat mencakup hal-hal seperti preferensi dan informasi kontak. 

Zero-party data dikumpulkan langsung dari pelanggan, biasanya melalui metode pengumpulan data interaktif seperti jajak pendapat, kuis, dan langganan (subscription).

Key Takeaways

  • Setiap tahun, akan ada tren marketing yang baru, sebagai marketer ataupun pemilik brand, sudah sewajarnya kita adaptif merespon setiap tren.
  • Tren bergerak seperti pendulum, kadang kita cuma perlu mencocokkan tren mana yang pernah terjadi sebelumnya dan bagaimana cara menyikapi tren itu di masa yang lalu.
  • Siap-siap pakai sabuk pengaman, TikTok Marketing akan semakin kencang melaju.
  • Ada dua mata uang yang akan menjadi semakin mahal, yaitu interaksi dan data.
  • Third-party cookies yang selama ini sangat berjasa untuk menghubungkan pengiklan dengan target iklan, akan mulai dihilangkan.
  • Sebaiknya brand mulai menginisasi sebuah langkah untuk menjalin kedekatan dengan pelanggan untuk mendapatkan “ijin” mengakses mereka secara langsung melalui channel-channel yang lebih personal.

More Insights

All Right Reserved © 2026 Akarmula
arrow-down
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram