fbpx

Flywheel Marketing, Hot or Not?

September 8, 2021

Setiap pemilik bisnis pingin jualannya laris.

Itu jelas....

Tapi sejak era belanja online dimulai, sampai dengan detik ini, produk laris aja gak jaminan bikin bisnis kita panjang umur. 

Sekarang ketakutan para pemilik bisnis bukan lagi tentang gak bisa habisin stok produk. 

Ketakutan pemilik bisnis era sekarang adalah review buruk dari customer.

Atas dasar ketakutan itu lah sebuah model strategi penjualan yang dinamakan flywheel marketing mulai berkembang. 

Dibanding pendahulunya–marketing funnel–flywheel lebih fokus pada cara membuat pelanggan senang, puas, dan ingin selalu bertransaksi dengan kita.

Pelanggan bukan lagi sekedar dijadikan “sapi perah”, melainkan bersama dengan mereka kita terus bergerak dan berusaha untuk mencapai sebuah tujuan.

Sebenarnya (tanpa disadari) sudah banyak orang mengadopsi strategi ini

Membuat video tutorial, in-depth review produk, dan membuat konten valuable adalah bagian dari aktivitas di dalam flywheel marketing.

Kalau kamu cukup aktif di Instagram, sejak tahun 2019 banyak brand yang mulai aktif mengunggah microblog.

Aktivitas-aktivitas tersebut ditujukan untuk menciptakan kedekatan dengan para pelanggan.

See... Ternyata banyak yang sebenarnya sudah melakukan flywheel marketing kan?

Marketing funnel vs Flywheel Marketing

Loh, masih baca sampai sini? Masih penasaran sama flywheel?

Oke, sekarang kita coba cek perbandingan proses antara kedua model strategi pemasaran ini ya.

Dalam marketing funnel, pelanggan diposisikan sebagai output dari strategi yang kita terapkan. Strategi dianggap works kalau kita bisa mengubah prospek (leads) menjadi pembeli.

Kalau di dalam flywheel, pelanggan diposisikan sebagai energi utama dalam pergerakan bisnis kita. Letaknya ada di pusat. Tugas kita adalah menjaga agar energi ini tetap stabil dan momentum bisnis kita terus terjaga.

Penjualan akan terjadi karena ada review baik yang diberikan oleh seorang prospek (leads) yang sudah mendapat pengalaman positif dari brand kita.

“Loh, kalau gitu maksud dari menjaga momentum, apa bedanya sama fase loyalty dan advocacy yang dilakukan di marketing funnel?”

Mirip ya? Memang…

Tapi kalau kita pakai marketing funnel yang original, dari tahun 1898 marketing funnel ya cuma sebatas AIDA (Awareness - Interest - Desire - Action).

Jadi kalau funnel itu sebenarnya punya tujuan utama hanya untuk mengkonversi.

Marketer modern lah yang mulai nambahin Loyalty dan Advocacy ke dalam funnel. Semua dilakukan sejalan dengan kebiasaan target pasar dalam menerima informasi (khususnya iklan).

“Kalau gitu model strategi pemasaran funnel (yang modern) sama flywheel gak beda dong?”

Hampir mirip... Cuma tujuan dan mindset dari awalnya aja yang beda. Yang satu fokus mengejar konversi, yang satu fokus memberikan pengalaman terbaik untuk pelanggan.

Yang perlu jadi catatan adalah ketika ada sebuah tujuan yang sama tapi niatan awal kita berbeda, pasti cara kita melakukannya pun berbeda.

Tapi tenang, kan kita udah sepakat, tanpa disadari banyak pemilik bisnis udah mulai beralih ke tindakan flywheel tapi mindsetnya masih funnel. Kalau mau relevan terus sama pelanggan, tinggal nyesuaiin mindset sama tindakan aja nih.

Good luck!

Article written by Lintang Noviantara
Brand Strategist at Akarmula

More Insights

All Right Reserved © 2024 Akarmula
arrow-down
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram