Topik pricing strategy kali ini kita mulai dengan pertanyaan sederhana: kenapa kadang harga Rp 500.000 terasa mahal, tapi di lain waktu, kita rela bayar Rp 1 juta tanpa pikir panjang?
Jawabannya bukan selalu soal isi dompet, tapi isi pikiran. Karena yang sebenarnya membuat produk terasa “mahal” itu bukan cuma harga... tapi biaya yang dirasakan.
Ini bukan teori ngawur. Dalam artikelnya di Branding Mag, Hunter Thurman menyebut bahwa keputusan membeli lebih banyak dipengaruhi oleh beban psikologis, bukan cuma harga yang dipasang.
Beda sama kalkulator; pelanggan ternyata menimbang waktu, tenaga, dan hal-hal yang bikin dia pusing saat memahami penawaranmu.
Jadi, pertanyaan yang lebih penting dari “berapa harga produk aku harusnya ya?” adalah:
“Seberapa banyak energi yang harus dikeluarkan calon pelanggan untuk paham, percaya, & decide untuk beli produkku?”
Kita coba bayangin dua brand yang sama-sama menawarkan jasa strategi brand seharga Rp 8 juta.
Harga sama. Tapi yang satu bikin kita angkat alis (“...apa aja isinya?”), sementara yang lain bikin kita lega (“oh, ini udah komplit ya”).
Perbedaan ini bukan soal diskon. Tapi ada di level narasi.
Dari uraian Thurman, kita bisa merangkum tiga bentuk utama dari perceived cost yang sering tidak disadari oleh pemilik merek:
Semua ini membuat proses membeli menjadi rumit dan tidak menyenangkan. Dan begitu pelanggan merasa capek, ada risiko mereka mundur karena ogah repot.
Dalam sebuah artikel di Harvard Business Review, dijelaskan bahwa pelanggan tidak hanya menimbang harga sebagai angka, tetapi juga mempertimbangkan total “biaya” lain yang muncul saat mereka membuat keputusan, termasuk waktu, energi, dan kecemasan yang timbul karena proses yang tidak transparan.
Contoh kecil yang sering terjadi di dunia nyata: dua kedai kopi.
Meski lebih mahal, kedai B fokus ke apa yang akan jadi benefit tanpa beban mental di belakangnya.
Kalau kamu pemilik bisnis, coba tanyakan ini ke dirimu sendiri:
“Apakah proses beli di produkku bikin orang pengin lanjut... atau pengin cabut?”
Beberapa langkah reflektif yang bisa kamu mulai:
Dalam ulasan di Behavioral Scientist, para peneliti menunjukkan bahwa persepsi nilai yang dibentuk oleh komunikasi brand lebih berpengaruh terhadap keputusan pembelian daripada angka harga itu sendiri.
Dalam pricing strategy, jangan biarkan harga berdiri sendirian. Bantu dia dengan narasi. Bungkus dia dengan kejelasan. Dampingi dia dengan empati.
Dan kalau kamu ingin berdiskusi lebih lanjut soal bagaimana caranya bikin harga terasa masuk akal tanpa harus perang diskon, yuk ngobrol bareng tim Akarmula. Kami menyediakan sesi free discovery call 60 menit buat kamu yang ingin menyederhanakan komunikasi harga — dan memperkuat persepsi nilai.