fbpx

Kenali 12 Archetype dalam Branding Agar Brandmu Makin Dekat dengan Audiens

May 30, 2023
brand archetype

95% pengambilan keputusan pembelian terjadi di dalam pikiran bawah sadar konsumen. Mungkin ini yang jadi alasan kenapa brand archetype penting untuk dibangun. Archetype dalam branding mungkin salah satu konsep dalam branding yang nggak begitu sering dibahas oleh banyak orang. 

Jadi gini, seringkali, konsumen justru nggak mencari alternatif saat memilih produk. Apa yang mereka percaya, rasakan, atau pikirkan dalam berbelanja akan menjadi reaksi fisik yang tanpa disadari oleh konsumen tersebut.

Key Takeaways

  • Brand archetype itu pada dasarnya adalah sebuah bentuk personifikasi yang dibentuk dari karakteristik manusia yang kemudian memberikan karakter bagi sebuah brand agar dapat terhubung dengan audiens.
  • Yang membuat konsumenbisa nyambung dengan brand tersebut tentunya karena brand itu memiliki archetype dari proses branding hingga storytelling untuk brandnya. Archetype ini bermanfaat banget bagi brand untuk menciptakan rasa familiar antara audiens dengan brand tersebut. 
  • Brand archetype itu penting untuk memahami dirinya sendiri, menciptakan hubungan emosional dengan konsumen, dan membangun loyalitas

Salah satunya karena konsumen merasa dekat dan memiliki keterikatan perasaan dengan suatu brand. Di sinilah peran brand archetype terlihat pada saat branding. Brand archetype bakal bermanfaat banget agar brandmu bisa masuk ke dalam pikiran audiens. Kenapa bisa? Mari kita bahas secara tuntas sekaligus mengena ke-12 jenisnya Let’s go!

Apa itu Archetype?

Pada dasarnya, archetype merupakan sebuah konsep yang pertama kali diperkenalkan di dunia modern oleh psikiater asal Swiss, Carl Jung. Carl Jung ini percaya bahwa manusia pada dasarnya berbagi “collective unconscious”. Oleh karena itu, manusia dilahirkan dengan naluri yang sama dan pemahaman secara alam bawah sadar terkait tentang pola perilaku yang mereka kenali setelah melihatnya.

Ini yang menjadi landasan dalam konsep archetype. Jung menyebutkan bahwa Archetype adalah kecenderungan bawaan manusia yang berperan dalam memengaruhi perilaku manusia sehingga Archetype menjadi pola karakter abadi yang diketahui manusia.

Oleh karena itu, secara naluri kita langsung memahami bagaimana kisah “The Hero” sebagai pahlawan dan “The Outlaw” sebagai antagonisnya. Bahkan, Archetype sendiri beriringan dengan yang namanya storytelling. Makanya archetype bisa nyambung dengan audiensnya.

Terlebih, archetype ini juga menempel pada sifat-sifat dasar yang melekat pada manusia sejak dilahirkan hingga dapat dirasakan. Oleh karena itu, perasaan dan pemikiran manusia selalu melekat pada archetype tersebut.

Lalu, Apa Itu Brand Archetype?

Kalau tadi kita mengenal konsep archetype secara umum, maka kita akan memahami archetype dalam branding. Memang, apa bedanya archetype dengan brand archetype?

Brand archetype itu pada dasarnya adalah sebuah bentuk personifikasi yang dibentuk dari karakteristik manusia yang kemudian memberikan karakter bagi sebuah brand agar dapat terhubung dengan audiens.

Menggunakan brand archetype tentunya akan memancarkan aura dalam suatu brand yang dapat diterima oleh pemikiran alam bawah sadar manusia secara jangka panjang.

Tujuan dari brand archetype ini adalah agar brand dapat menonjolkan kepribadiannya saat hadir sebagai solusi yang dibutuhkan oleh audiens. Makanya brand archetype dapat membantu membangun brand agar dapat dikenal dan kekal di pikiran audiens.

Archetype memberikan brand berbagai kemungkinan yang tak terbatas dan membuat mereka memiliki lebih banyak ruang untuk berkembang. Hal ini karena brand dapat mengembangkan keunikannya agar lebih mudah diingat.

Kamu sendiri pasti pernah kan ngerasa dekat banget dengan suatu brand? Kamu nggak cuma tertarik dengan produk brand tersebut tetapi juga mengikuti cerita dari brand itu. Nggak hanya itu, kamu bahkan sampai merekomendasikan brand tersebut ke orang lain karena nyambung dengan dirimu.

Kok bisa begitu, ya?

Yang membuat kamu bisa nyambung dengan brand tersebut tentunya karena brand itu memiliki archetype dari proses branding hingga storytelling untuk brandnya. Brand archetype ini secara nggak sadar bakal memengaruhi persepsimu terhadap suatu brand.

Lalu, apa sih pentingnya menentukan brand archetype dalam branding?

Mengapa Archetype dalam Branding itu Penting?

Kita seringkali diajarkan bahwa branding itu penting dalam membentuk kesan dan makna dari suatu bisnis terhadap audiensnya. Tak jarang, kita juga sering diajarkan bahwa marketing itu penting untuk meningkatkan hasil penjualan sampai maksimal.

Agar kedua proses tersebut dapat berjalan secara lancar, tentunya brand harus memiliki jati diri atau karakteristiknya sendiri yang bikin mereka dapat membaur dengan audiens. Ini yang dimaksud dari brand archetype.

Archetype ini bermanfaat banget bagi brand untuk menciptakan rasa familiar antara audiens dengan brand tersebut. Tentunya ini bakal terpakai dalam brand storytelling agar lebih kuat dan emosional.

Makanya, beberapa brand besar yang umum kita temui seringkali memiliki brand story yang menarik.

Buktinya bisa kita lihat dari bagaimana Nike mampu memotivasi audiensnya, Apple yang mampu membuat konsumennya merasa spesial, hingga berbagai brand fashion seperti Hermes dan Burberry yang bikin kamu merasa terikat bahkan jadi pengguna setia produknya.

Dari pada makin penasaran, berikut yang menjadi alasan sebuah brand harus memiliki archetype.

Brand Bakal Lebih Memahami Dirinya Sendiri dan Apa yang Ingin Dicapai

Memahami brand archetype bagi brandmu dan menerapkannya bakal membuat brand tersebut memiliki kepribadian dan makna yang lebih mendalam. Hal ini bakal membantu brand dalam membentuk kesan yang mereka ingin tampilkan ke audiens.

Ini juga yang diinginkan brand agar dapat membentuk makna yang jelas di pikiran audiens sehingga dapat membuat brandmu semakin menonjol dan berbeda dibandingkan kompetitor. Selain itu, brand archetype juga bakal membantu brand untuk membentuk pesan brand yang sesuai dengan target pasar serta niche dari brand tersebut.

Oleh karena itu, dari brand archetype ini, kita bisa menghasilkan berbagai hal, mulai dari personality, tone of voice, hingga brand story yang kuat. Tentunya hal tersebut bakal diandalkan dalam proses branding dan marketing nantinya.

Menciptakan Hubungan Emosional yang Lebih Dalam

Setelah brandmu mengetahui apa jenis archetype yang cocok dan bakal digunakan seterusnya, kamu bakal lebih mudah dalam memilih strategi marketing yang tepat untuk brandmu. Nggak hanya itu, brandmu juga bakal lebih mudah mengimplementasikan strategi marketing yang sudah dirancang.

Hal ini karena brand archetype juga berfungsi sebagai panduan dari bagaimana brandmu berinteraksi dengan audiens. Terlebih, audiens dapat merasakan brand experience dari bisnismu mulai dari bagaimana interaksi media sosial dengan brandmu. Interaksi ini yang bikin brand makin terlihat hidup dan menumbuhkan kesan positif bagi audiens.

Membentuk Brand Story yang Bisa Dipahami Audiens

Memahami brand archetype yang cocok bagi brandmu bakal berguna banget saat kamu ingin membentuk brand story. Semua orang suka dengan storytelling yang menarik, tapi belum tentu banyak orang akan mendengarkan cerita yang biasa-biasa saja.

Dengan adanya brand archetype, kamu bisa menemukan bahkan membentuk formula brand story yang tepat untuk brandmu. Sebuah cerita yang menarik, unik, dan estetik membuat audiens tertarik sehingga brandmu makin dilirik.

Nggak cuma itu, brand story yang dibentuk dari brand archetype juga bakal membantu meningkatkan awareness agar orang-orang semakin memahami sebenarnya apa sih brandmu itu.

Membangun Brand Loyalty

Tahu nggak sih kalau ternyata brand archetype juga bantu ngebangun brand loyalty? Ada dua cara yang dipakai sama brand archetype untuk meningkatkan loyalitas.

Pertama, brand loyalty bakal membentuk employee loyalty di tengah karyawan. Nantinya, mereka ini yang bakal membantu merekomendasikan brandmu ke banyak orang. Sekarang coba pikirkan lagi, mereka yang bekerja bagi brandmu tentu tertarik karena brand story atau interaksi yang brandmu lakukan, bahkan kesesuaian visi dan misi yang dibentuk dari brand archetype.

Kedua, brand archetype juga bakal mendorong customer loyalty. Sekarang, konsumen nggak hanya mencari produk saja, tetapi juga memikirkan kenapa suatu produk dari satu brand tersebut worth untuk dibeli, salah satu pertimbangannya tentunya reputasi dan makna yang melekat.

Contohnya seperti Apple dan Xiaomi, tahu kan bagaimana kedua brand tersebut memiliki konsumen yang super loyal bahkan “siap perang” demi membela brand tersebut? Tentunya itu dibentuk berkat brand archetype yang membuat konsumen terikat dan mau diasosiasikan terhadap brand tersebut.

Mendorong Pengembangan Produk

Kepikiran nggak kalau ternyata brand archetype bisa bantu pengembangan produk dari brandmu. Umumnya, sebuah brand mengeluarkan produk yang tentunya sejalan brand archetype yang dimiliki.

Hal ini bisa direfleksikan mulai dari fungsionalitas, estetika visual dari produk tersebut, hingga bagaimana konsumen merasakan pengalaman dari produkmu.

Tentu dengan semakin berkembangnya brandmu, kamu bakal memahami lebih dalam apa produk yang diinginkan oleh audiens sesuai dengan brand archetype yang ada.

Contohnya seperti Chanel, brand fashion papan atas satu memiliki archetype “The Lover” yang meyakinkan penggunanya merasa dicintai dan menjadi pusat perhatian. Oleh karena itu, produk yang dikeluarkan oleh Chanel pun juga secara visual dapat menarik perhatian secara positif bagi setiap orang yang melihatnya.

12 Jenis Archetype yang Biasa Digunakan dalam Branding

Tadi kita sudah mengetahui bersama apa itu archetype dan pentingnya dalam proses branding. Pada dasarnya, tujuan utama dari penggunaan archetype dalam branding adalah untuk membantu brand menemukan tempat di hati konsumen.

Oleh karena itu, sangat penting bagi sebuah brand untuk menentukan archetype yang sesuai dengan filosofi dan nilai-nilai mereka. Tentunya, ini akan berguna saat brand ingin mendekatkan dirinya ke audiens dengan cara yang tepat sesuai target pasar.

Pada dasarnya, ada 12 jenis archetype yang dapat diadopsi oleh brand berdasarkan sifat-sifat karakteristik manusia. Tentunya brandmu juga dapat mengadopsi archetype ini sesuai kebutuhannya. Berikut ini adalah 12 jenis archetype yang sering digunakan dalam branding:

The Lover

Archetype the lover memiliki rasa kasih sayang dan kesukaan terhadap sesuatu yang indah dan membahagiakan. Sifat the lover adalah sifat yang Suka diinginkan dan dicintai. Umumnya, mereka selalu ingin tampil menjadi lebih menarik baik secara fisik maupun emosional untuk membuat orang lain tertarik.

Jenis hubungan yang dimiliki oleh archetype the lover umumnya bersifat intim, kekeluargaan, dan bersahabat. Ini dibangun dengan menciptakan hubungan yang dapat meningkatkan gairah emosi. Caranya dengan meningkatkan hubungan dengan orang-orang dan hal-hal yang benar-benar penting.

Pada umumnya, brand yang memiliki archetype the lover selalu mencari cara untuk membuat audiensnya merasa spesial dan istimewa. Ditambah, archetype the lover juga memberikan validasi atas kecantikan maupun keindahan konsumennya. Oleh karena itu, brand archetype the lover seringkali diterapkan pada brand yang berkaitan dengan kecantikan maupun intimacy, seperti kosmetik, parfum, fashion, hingga wine dan luxury food.

Archetype ini berfokus dalam meningkatkan hasrat dan kesenangan melalui penglihatan, suara, penciuman, atau sentuhan.

Archetype the lover ini bisa kita temukan di brand seperti Chanel, Godiva, Victoria’s Secret, hingga Tiffany and Co.

The Everyperson

The everyperson bisa dibilang merupakan archetype yang bisa relate dengan banyak orang dan membumi di saat yang bersamaan. Archetype the everyperson ini umumnya membaur dan nggak terlalu suka terlihat paling menonjol di antara kerumunan.

Sifat membumi dari archetype the everyperson itu diwujudkan dari interaksi mereka yang bersahabat dan easy going tanpa terkesan lebay maupun alay. Nggak hanya itu, the everyperson juga dapat dengan mudah percaya dan bersifat positif sehingga mampu membaur ke berbagai kelompok.

Archetype the everyperson bisa kamu terapkan dengan membuat audiens dapat merasakan sense of belonging. Pesan yang difokuskan pada archetype lebih mengarah bahwa menjadi normal itu wajar.

Nggak hanya itu, brand juga harus mampu membangun makna bahwa mereka bersahabat dengan audiens karena archetype ini cenderung takut mendapatkan penolakan. Brand voice yang digunakan dalam the everyperson pun juga cenderung bersifat humble dan friendly sehingga audiens merasa diterima.

Archetype the everyperson ini umumnya ditemui di brand yang produknya sering kita temui sehari-hari dan lekat dengan keluarga. Brand-brand tersebut biasanya bergerak di bidang industri home lifestyle, makanan, hingga pakaian sehari-hari.

Oleh karena itu brand-brand seperti IKEA, GAP, eBay, hingga Walmart memiliki archetype The everyperson yang sesuai dengan target pasar serta brand positioning mereka di market.

The Creator

Kreatif, inovatif, sang pencipta, sang pelopor, dan penuh imajinasi.

Kata-kata tersebut sejalan dengan archetype the creator. The creator adalah sosok yang berambisi menjadi inovator dengan motivasi untuk menghasilkan sebuah mahakarya yang original melalui imajinasi mereka. Bisa dibilang, mereka adalah juaranya kalau berurusan dengan imajinasi.

Umumnya, the creator memiliki keinginan tinggi dan berambisi untuk menciptakan sesuatu yang baru yang telah mereka bayangkan sebelumnya. Mereka berusaha mewujudkan visi mereka ke dalam suatu bentuk yang nyata. Oleh karena itu the creator juga percaya kalau “kamu bisa membayangkannya, kamu bisa membuatnya”.

Umumnya, archetype the creator ini orang-orangnya nggak begitu suka dengan metode periklanan yang tradisional maupun produk yang biasa-biasa saja. Mereka membutuhkan sesuatu yang bisa bikin terkesan dan membangkitkan gairah kreativitas mereka. Bahkan mereka rela membayar lebih agar ambisi mereka untuk berkreasi dapat terpenuhi.

Oleh karena itu, brand dengan archetype ini biasanya berfokus untuk membuat jiwa kreatif dan inovatif audiens semakin menggebu-gebu dengan memberikan pengalaman terbaik. Brand voice yang digunakan tentu saja cenderung inspiratif, penuh imajinasi, dan ekspresif.

Brand juga harus dapat meyakinkan audiens bahwa produk mereka mampu menjadi tempat untuk mengekspresikan diri melalui demonstrasi dan eksperimen produknya. Nggak jarang, brand dengan archetype the creator juga dituntut untuk selalu mengeluarkan inovasi untuk menginspirasi audiensnya.

The creator biasanya dapat ditemui di brand yang bergerak di bidang teknologi maupun kreatif, contohnya seperti Adobe, LEGO, dan Apple. Kamu pasti familiar banget kan kalau ketiga brand tersebut sering banget jadi inspirasi bahkan produknya digunakan oleh orang-orang yang kreatif maupun anak ahensi.

The Innocent

Positif dan optimistik, kedua kata itu bakal menjadi kata yang tepat dalam menggambarkan archetype the innocent. Bisa dibilang, archetype the innocent ini cenderung seperti main aman, tetapi mereka memiliki motivasi agar mereka maupun orang disekitarnya senang.

Maka dari itu, archetype the innocent ini biasanya jujur dan polos dengan siapapun. Mereka selalu memandang sisi positif dari manusia dan menganggap bahwa semua manusia pada dasarnya adalah sosok yang optimis dan positif. The innocent bahkan cenderung menganggap inner beauty itu sesuatu yang penting.

Brand yang akrab dengan archetype the innocent biasanya memiliki gaya komunikasi yang jujur, to the point, dan berkomunikasi secara positif. Hal ini karena audiens pasti ingin percaya bahwa brandmu itu aman dan mengakomodasi optimisme yang ada.

Oleh karena itu, brand dengan archetype ini biasanya memberikan solusi yang simpel agar audiens nggak bingung. Nggak hanya itu, karakter yang digunakan pun cenderung rendah hati dan optimis.

Kita bakal sering menemukan archetype the innocent ini di brand yang fokus produknya adalah skincare kecantikan atau produk organik, seperti Dove, Whole Foods, dan Ivory.

The Ruler

The ruler adalah archetype yang menginginkan kendali atas segalanya sehingga cenderung bersikap dominan untuk mendapatkan kekuasaan. Secara komunikasi, the ruler cenderung bersikap otoriter dan intimidatif sehingga terlihat berwibawa.

Archetype the ruler memandang dirinya sendiri sebagai sosok yang dominan dan percaya diri karena merasa berada di atas segalanya. Oleh karena itu, brand dengan archetype the ruler ini biasanya memberikan validasi terhadap kekuasaan, kontrol, maupun rasa hormat.

Umumnya, brand akan memberikan rasa eksklusif dan superior dibandingkan yang lain dalam archetype ini. Audiens ingin merasakan bahwa mereka spesial dan sosok yang penting sehingga brand selalu menjamin bahwa audiens adalah sosok yang kuat.

Archetype seperti ini cenderung kita temui di industri yang bersifat eksklusif, seperti keuangan, high-end products, bahkan hotel. Brandnya, antara lain Rolex, Mercedes Benz, hingga American Express.

The Jester

The jester merupakan archetype yang cocok dengan jiwa muda yang “work hard, play harder”. Bisa dikatakan, archetype ini memiliki ciri khas yang suka bersenang-senang dan hidup untuk hari ini. Mereka paling suka bersenang-senang dan menjadi cahaya bagi kesenangan orang lain.

Nggak cuma itu, the jester ini kalau di tongkrongan juga sering dianggap sebagai orang yang suka ngelemparin jokes yang bikin tongkrongan makin seru.

Brand dengan archetype ini biasanya mengomunikasikan produknya ke audiens dengan cara yang berbeda, yaitu dengan cara yang playful, menghibur, bahkan dengan jokes yang nyambung dengan audiensnya. Maka dari itu karakternya juga cenderung humoris serta playful.

Contoh brand dengan archetype the jester, antara lain Dollar Shave Club, Old Spice, dan Nickelodeon.

The Outlaw

The outlaw ini bisa dibilang tipe-tipe archetype si anak rebel. Sifat rebel dari archetype the outlaw ini biasanya karena mereka ingin menantang status quo. Bisa dibilang, the outlaw suka untuk keluar dari zona nyaman dan mencari kebebasan atas otoritas yang ada.

Umumnya, archetype the outlaw ini diiringi dengan emosi, rasa marah, hingga sifat yang garang untuk mencapai apa yang mereka inginkan. Maka dari itu, brand dengan archetype ini memandang dunia seperti bagaimana the outlaw melihat sekitarnya.

Umumnya, brand dengan archetype the outlaw menggunakan karakter agresif dengan gaya komunikasi yang mengajak audiens untuk menantang norma sosial dan kehidupan yang membosankan. Maka dari itu, kamu bisa menemukan archetype ini di brand seperti Harley-Davidson dan Doc Martens.

The Caregiver

Kalau membicarakan archetype ini, bayangkan seseorang yang peduli banget sama kamu, perhatian atau bahkan mau merawatmu dengan baik dan sepenuh hati. Ini yang sesuai dengan archetype caregiver.

Archetype ini biasanya digambarkan sebagai sosok yang bersifat “keibuan”, mau merawat dengan sepenuh hati sampai tuntas. Nggak hanya itu, caregiver juga digambarkan sebagai archetype yang suka mencegah berbagai kemungkinan buruk yang terjadi.

Oleh karena itu, karakter yang digunakan cenderung hangat dan penyayang. Selain itu, brand dengan archetype caregiver juga berkomunikasi secara halus dan mengutamakan konsumen. Brand juga cenderung menargetkan ke audiens yang membutuhkan bantuan dan hadir sebagai solusi atas masalah mereka.

Archetype the caregiver umum di brand yang memiliki layanan kesehatan, edukasi, bahkan LSM non-profit, seperti Unicef, WWF, dan rumah sakit.

The Sage

The sage ini adalah jenis archetype yang selalu mencari jawaban dari setiap pertanyaan. Jenis archetype yang satu ini haus akan pengetahuan dan kebijaksanaan. Mereka sangat ingin memahami dunia yang luas dan mau membagikan apa yang mereka ketahui ke semua orang.

Biasanya, archetype the sage ini orang-orang yang selalu ingin belajar dan mencari tahu, mereka adalah tipe orang yang paling suka diajak diskusi untuk bertukar pikiran.

Makanya, brand dengan archetype the sage ini gaya berkomunikasinya seperti sedang mengobrol dengan filsuf atau profesor di kampus. Nggak hanya itu, archetype the sage bagi brand ini erat banget kaitannya dengan fact-check dan sesuatu yang sudah diriset sedalam mungkin. Tentunya ini agar semua orang bisa mendapatkan informasi yang faktual dan bermanfaat.

Brand yang menggunakan archetype the sage ini biasanya berkutat di bidang media atau pendidikan, seperti Harvard, The Mayo Clinic, BBC, dan Google.

The Hero

Kamu mungkin sudah menangkap kalau archetype ini bakal erat kaitannya dengan brand Nike. Kenapa bisa begitu? Sebelumnya, kita bahas dulu archetype the hero.

Archetype the hero ini mayoritas memiliki ambisi dan motivasi untuk membuktikan dirinya melalui tekad serta keberanian yang tinggi. Mereka seringkali diidentikkan sebagai pekerja keras agar bisa mendapatkan hasil yang maksimal melalui keterampilannya.

Nggak hanya itu, archetype the hero ini juga ingin memotivasi orang lain dengan menunjukkan kekuatan maupun tekad mereka yang kuat untuk mencapai kemenangan yang diimpikan.

Oleh karena itu, gaya komunikasi dari brand dengan archetype the hero ini lebih ke arah menginspirasi audiens dan menunjukkan bahwa mereka dapat meraih apa yang para “pahlawan” bisa dapatkan dengan bekerja keras. Sekilas terdengar seperti premis setiap campaign Nike, bukan?

Tentu saja, brand yang lekat dengan archetype the hero adalah brand seperti Nike, Adidas, atau Gatorade.

The Magician

The magician adalah sosok yang selalu berusaha untuk mewujudkan impian dengan cara yang unik. Mereka memiliki imajinasi yang nggak biasa. Oleh karena itu, the magician mampu menciptakan keajaiban dan menghilangkan masalah dengan mewujudkan impian.

Tak hanya itu, The magician juga sangat ingin tahu tentang banyak hal. Namun, berbeda dengan the sage, mereka lebih memanfaatkan pengetahuannya untuk menunjukkan visi yang dimilikinya. Kemampuan ini seringkali tanpa disadari bisa membuat orang lain "terhipnotis" dan menjadi pengikut setia.

Brand dengan archetype ini biasanya membawa konsumennya ke sebuah perjalanan, before to after atau worn out to new. Oleh karena itu, gaya komunikasi the magician cenderung lebih persuasif dan menginspirasi agar banyak orang mau mengikuti.

Brand yang menggunakaan archetype ini, antara lain Walt Disney dan Dyson.

The Explorer

The explorer, seperti namanya, merupakan jenis archetype dari sosok yang berani, senang berpetualang, dan menyukai tantangan. Mereka memiliki motivasi yang kuat untuk mengeksplorasi dan mendorong diri keluar dari zona nyaman kehidupan sehari-hari.

Berbeda dengan The Outlaw, the explorer seringkali memiliki pandangan atau prinsip yang individualistis, namun visi yang jelas dan kuat yang mereka miliki dapat menginspirasi orang lain untuk bergabung dengan mereka. Kiprahnya sebagai archetype the explorer dapat mempengaruhi orang lain untuk lebih berani dan senang berpetualang.

Biasanya, brand dengan archetype the explorer bakal menantang audiensnya untuk maju dan meninggalkan zona nyaman. Mereka mengajak konsumen untuk sering berpetualang keluar dan menjelajahi hal yang baru. Oleh karena itu, karakter-nya cenderung berani dan bersemangat.

Brand yang menggunakaan archetype ini, antara lain Patagonia, Jeep, REI, dan NatGeo.

Bagaimana Cara Kerja Archetype Bagi Brand?

Sebelumnya kita sudah bahas 12 jenis  brand archetype. Namun, bagaimana sih cara kerja dari brand archetype itu sendiri?

Brand archetype dapat membantu kamu sebagai pemilik bisnis dalam memilih karakteristik serta persona yang tepat untuk brandmu.

Bayangkan kalau kamu mengetahui tipe-tipe archetype yang tepat bagi brandmu. Bukan hal yang mustahil brandmu bakal jadi pilihan utama konsumen.

Setiap tipe brand memiliki karakteristik yang berbeda karena masing-masing brand memiliki maknanya tersendiri, sehingga kamu dapat mengembangkan produkmu dengan menyesuaikan karakteristik yang dibawa.

Dengan demikian, inovasi dan pengembangan dapat dilakukan lebih cepat karena berfokus terhadap karakteristik inti atau archetype dari brandmu.

Selain itu, menerapkan archetype brand sesuai dengan karakteristiknya juga dapat memudahkanmu dalam berkomunikasi mengenai produkmu. Kegiatan pemasaran dalam bisnis tidak bisa terlepas dari keterampilan berkomunikasi yang baik.

Tentunya hal ini karena archetype merefleksikan karakter dari brand dan konsumen, maka komunikasi antara keduanya dapat berjalan lebih lancar. Jadi, jangan ragu untuk memilih brand archetype yang tepat untuk bisnismu.

Question to Consider

  • Apakah kamu dapat langsung menemukan brand archetype yang tepat untuk bisnismu?
  • Kira-kira, apakah bisnismu yang beradaptasi dengan brand archetype atau archetype tersebut yang disesuaikan dengan brandmu?
  • Bagaimana cara agar brandmu dapat menangani situasi saat archetype yang diadopsi ternyata tidak tepat?
Article written by Herpinando Trisnu

More Insights

All Right Reserved © 2024 Akarmula
arrow-down
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram